Travelpolitan.com

Sebuah cerita menyedihkan di penerbangan KL-JKT

Malam itu adalah penerbangan lanjutan saya dari Amsterdam – Kuala Lumpur – Jakarta. Seperti biasa setelah landing untuk transit, semua penumpang diminta untuk turun dulu, kadang kalau kita masih akan menggunakan pesawat yang sama maka hanya keluar gate, kemudian masuk kembali, tetapi jika kita harus berganti pesawat maka bisa jadi harus pindah ke Gate yang lain.

Ilustrasi seorang Ibu (Photo: Kumparan)

Waktu pergantian itu kadang membuat kita menjadi deg-deg-an karena kadang harus pindah ke gate yang cukup jauh, misal kita landing di gate A dan harus pindah ke gate Z, dan waktu yang tersedia hanya 1 jam, kebayang kan harus lari-larian, mencari informasi Gate yang baru, melewati security check up, ke toilet untuk pipis, sempatin beli oleh-oleh di negara tempat kita transit, dll.

So, singkat cerita saya sudah berada di gate akhir saya tujuan Jakarta. Ya, saat itu saja baru saja landing di Kuala Lumpur. Setelah waktunya tiba, semua penumpang berbaris, menyiapkan dokumen passport dan boarding pass. Sekilas terlihat wajah-wajah yang akan membuat hati ini merasa bahagia, ya terang saja karena selama dua minggu itu saya hanya melihat para bule di negara Eropa.

Ketika duduk dan baru saja ingin memejamkan mata untuk menangkap energi dan melukapakan kehidupan sejenak, tiba-tiba seorang Ibu yang berada di sebelah saya mengajak berbicara. Saya di pinggir dekat jendela, Ibu itu di tengah.

“Ya ampun mas… Begini banget ya hidup, saya mau pulang ke kampung saja harus diperlakukan seperti ini, tidak pantas, sudah seperti binatang..” Ibu itu memulai pembicaraan.

Saya hanya menolehkan pandangan saya ke kanan saya sambil menatap mata Ibu itu dengan iba dan antusias untuk mendengarkan ceritanya lebih lanjut. Terlihat Ibu itu masih berusaha untuk menata nafasnya, seperti seorang yang mempunyai tekanan batin, entah apa masalah yang sedang dihadapinya.

“Pagi tadi saya minta ijin untuk pulang kampung ke majikan saya, saya malah diteriakin dan dikata-katain binatang, dibilang saya pembohong, pencuri.. Ya Allah, saya hanya pengen pulang sebentar dan nanti akan kembali bekerja lagi, saya akan tepati janji saja. Tetapi dia tidak percaya, terus saya memaki-maki saya dan mengancam akan melaporkan saya ke polisi” Ibu itu meneruskan pembicaraannya.

Para awak kabin sudah selesai menghitung jumlah orang yang sudah duduk di bangkunya masing-masing, pertanda sebentar lagi akan take off.

Ibu itu melanjutkan : “Saya bekerja di rumah makan mas, di luar kota KL, saya sudah bekerja sebaik-baiknya selama beberapa bulan ini. Tetapi tetap saja ga dianggap. Gaji saya belum diberikan semua, passport saya disimpannya.”

Ibu itu berhenti sebentar, kemudian melanjutkan “Apa salahnya saya hanya mau menengok anak saya yang lagi sakit sudah seminggu ini, saya hanya ingin melihatnya beberapa hari saja, nanti akan balik lagi.”

“Ibu mau kemana?” saya menyela pertanyaan singkat. Ternyata Ibu itu mau melanjutkan penerbangan ke Surabaya, kemudian ke Pasuruan, tempat Ibu itu berasal.

“Mas, beli tiket ke Surabaya gimana ya?” tambah Ibu itu. “Dicoba saja Bu di counter maskapai biasanya ada yang jual langsung.” jawab saya.

Ibu itu masih terlihat kebingungan, dan tidak tenang. Take off baru saja terjadi, sejenak masing-masing kita saling hening, saling menenangkan diri selama badan pesawat itu di posisi menanjak, beban badan tertarik gravitasi pada kursi penumpang. Semua hening, mengharapkan doa supaya diberikan keselamatan selama penerbangan.

Saya tertidur sebentar, dan terbangun ketika flight attendance mengumumkan posisi pesawat yang sudah stabil di atas awan. Saya menoleh ke kanan dan Ibu itu masih menundukkan kepalanya.

“Hidup begini banget ya mas, sekarang saya sudah ga punya pekerjaan lagi.. demi anak..” Ibu memulai pembicaraan lagi dan tetap menunduk.

“Sabar ya Bu, semoga permasalahannya segera terselesaikan dan anaknya cepat sehat lagi..” Ucap saya, dan menambahkan lagi “Lalu bagaimana Ibu bisa lolos dari majikan Ibu dan sampai di pesawat ini?”.

“Setelah dimaki-maki kasar, istri majikan keluar dari kamar dan membanting passport saya, lalu bilang kalau saya pulang saja ke negara saya dan tidak usah kembali lagi, atau mereka mau melaporkan saya ke polisi dengan dalih penipuan, penipuan karena saya tidak mau bekerja seperti yang tertera di kontrak. Dan kepulangan saya ke Indonesia ini hanya alasan saya untuk kabur. Saya takut mas..”

“Saya tidak dibekali apapun, uang gaji saya yang beberapa bulan masih ada di mereka, lalu saya pergi menemui teman sesama dari Jawa Timur yang bekerja disana, saya dibekali uang untuk pulang. Jadilah saya ada di pesawat ini mas.” Ibu itu menerangkan.

“Sabar ya Bu, pasti akan selalu ada jalan.”

Kemudian kita masih beberapa kali mengobrol, Ibu itu menceritakan tentang anaknya dan keluarganya, tentang kehidupan majikannya, tak lama setelah itu saya tertidur. Beberapa menit sebelum landing, saya terbangun dan mendapati Ibu itu tertidur.

Di bumi manusia dengan segala ceritanya ini, ada saja cerita-cerita orang yang kadang membuat kita ikut terenyuh, sedih, senang dan bahagia.

Di lorong persimpangan Transit dan Departure itu pun kami berpisah, ada senyum terlihat di raut mukanya yang masih terlihat sedih. Ketika kami berjabatan pertanda perpisahan, tak lupa saya selipkan sebuah amplop di tangannya. Selamat tinggal Ibu!