Travelpolitan.com

Mengunjungi Benua Kangguru! – Australia Part #1

Dari kecil memang saya mengagumi hewan asal negara benua karena lucu dan menggemaskan yaitu koala, hewan yang menghabiskan masa hidupnya lebih banyak untuk tidur ketimbang beraktifitas dan sisa waktu yang sedikitnya untuk makan daun eucaliptus sejenis daun kayu putih. 
 
Koala Australia
 
Dan kekaguman itu pun tidak hanya sebatas impian saja tetapi menjadi kenyataan ketika akhirnya saya mempunyai ide untuk mengunjungi negara itu, Australia! Ya, ada beberapa alasan kenapa kali ini saya begitu ingin mengunjunginya. 
Satu, karena negara benua ini terletak di ujung dunia. Saya pribadi dari dulu selalu membayangkan ketika melihat peta seperti apa rasanya berada di ujung dunia, seperti halnya di pulau Rote atau pulau Miangas di Indonesia, pulau Sabang dan Merauke. Di pulau Tasmania, di Cape of Good Hope di Afrika Selatan, atau di Alaska, ahh… Batas dunia ketika separuh jiwa ini terasa melayang bebas, lepas, separuh hilang. 
Kedua, Australia merupakan negara yang maju di sekitar Indonesia dengan western culture nya dan secara lokasi cukup berdekatan dengan tanah air. 
Ketiga, karena belum pernah kesana. Ingin melihat Sydney itu seperti apa, Melbourne seperti apa, dan tentunya melihat impian saya ketika kecil untuk bertemu koala.  🙂 Ngomong-ngomong tentang koala, teman saya orang Shanghai namanya juga Koala loh, lengkapnya Koala Liu. Katanya sewaktu mengandung, mamanya begitu suka sama hewan ini jadi ketika teman saya itu lahir mereka namakan sesuai dengan hewan kesukaannya. Untung mamanya tidak ngidam dan ngefans sama sapi. Hehe 
Karena penasaran kira-kira berapa biaya, saya langsung saja browsing di beberapa portal milik maskapai satu persatu, atau bisa juga menggunakan mesin pencari tiket yang sudah banyak seperti halnya Skyscanner, Tiket.com atau Traveloka.com semua tools itu memudahkan kita mencari maskapai mana dan kapan kita bisa berangkat. 
Dan akhirnya saya mendapatkan tiket yang menurut saya masih murah, untuk perjalanan pulang – pergi dengan AirAsia hanya 4 juta saja, tetapi masih perlu menunggu 10 bulan lagi.. Tak apalah kan perlu banyak persiapan, tabungan, lagian jadwal di bulan-bulan selanjutnya sudah tertulis untuk trip-trip lainnya baik di dalam maupun luar negeri, so… it’s okay.. Dan saya pun akan terbang ke benua kangguru itu September 2013, entah apakah akan menjadi bulan yang baik untuk melakukan perjalanan kesana.  
Dari Jakarta, saya harus transit ke Kuala Lumpur dulu mengingat waktu itu tidak ada perjalanan langsung dari Jakarta ke Sydney, dari Kuala Lumpur saya melanjutkan perjalanan selama delapan ke Sydney. Lumayan lah ya lamanya.. 🙂 
Bulan demi bulan berlalu, saya pun menyiapkan cukup dana untuk perjalanan saya kali ini. Sayangnya ada kendala besar karena teman saya membatalkan perjalanan itu dengan alasan ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Rencananya saya akan melakukan perjalanan berdua dengan seorang teman. Saya paksa dengan berbagai argumen, sayang uang tiket hangus, saya tawarin tanggung setengah biaya akomodasi kalaupun itu masalahnya, tetapi tetap pekerjaan kantornya mengalahkan mimpi dia untuk mengunjungi Australia! 
“Okelah kalau begitu, aku sendiri saja, it’s okay…” saya menenangkan diri dan memantapkan bahwa kalaupun akan solo travelling pun tak mengapa, saya sudah pernah dengan berbekal solo travelling dua tahun sebelum ini ke Eropa, ke beberapa negara, sendirian.. Walaupun sepi, kurang berkesan, tetapi akan selalu ada kejutan-kejutan yang menyenangkan, tak terduga ketika kita melakukan perjalanan sendirian. 
Saya buka laptop saya di café di sebuah mall depan gedung kantor di sekitar kawasan SCBD, browsing ke Facebook dan memasuki grup komunitas perjalanan yang saya ikuti. Saya posting apakah pada tanggal dan bulan itu ada yang berencana ke sana? Grup komunitas memang sudah tidak asing lagi bagi pecinta travelling, grup adalah sarana untuk mencari informasi, menambah motivasi dan membuka pertemanan yang lebih luas sesama pecinta travelling. 
Akhirnya ada sepasang calon pengantin dari grup itu yang akan melakukan perjalanan ke Sydney di bulan yang sama dan kami bersepakat untuk bertemu setiba disana walaupun flight kami berbeda. “Asyik ada temannya nih ga bakal garing seperti dulu”, guman saya serasa mengingat-ingat pengalaman solo travelling saya di Eropa dulu yang terasa sangat sepi.. Hiks. 
Seminggu kemudian ada salah seorang member group yang tertarik untuk join dan ingin memesan tiket perjalanan di hari yang sama dengan saya, ketika kami check ternyata harganya untuk pulang pergi sudah delapan juta. Tanpa pikir panjang teman baru saya itu membooking tiket pulang pergi Jakarta – Sydney… “Alhamdulillah, pertemanan itu ada aja ya tidak memandang batasan ruang dan waktu, bisa datang dan pergi, bisa membatalkan perjalanan dan bergabung dengan perjalanan yang baru..” 
Langkah selanjutnya saya musti mempersiapkan Visa Australia, cara-caranya seperti ini (masuk ke link Visa Australia). 
Ada beberapa dokumen yang harus dipersiapkan dan untuk memprosesnya kita harus melalui sebuah agent yang bernama VSF di kawasan SCBD.
Waktu berlalu cepat, di awal tahun 2013 saya melakukan perjalanan ke Bangladesh dan Malaysia, serta beberapa tempat di Jogja, Sawarna, Lampung dan Krakatau. Sampailah kini di bulan September, bulan dimana saya akan memulai pengalaman baru di negara tetangga itu selama satu minggu. 
Urusan visa sudah selesai. Sempat agak khawatir kalau visa tidak akan diproses karena dengar-dengar dari beberapa teman visa Australia termasuk yang susah. Perjalanan tinggal dua minggu lagi. Saya mulai mempersiapkan perlengkapan apa saja yang musti dibawa. Kamera SLR, beberapa kaos, celana panjang, pendek, sepatu, dan pritilan-pritilan lainnya semuanya harus dipikirkan setidaknya seminggu sebelumnya. Untuk tidak membawa barang yang banyak biasanya saya membuat tabel beserta berapa banyak hari yang akan saya habiskan di tempat tujuan. 
Misalkan seminggu, saya akan menuliskan dari Senin sampai Minggu, kemudian saya coret-coret mulai dari keberangkatan, check in hotel, tempat-tempat yang akan kita tuju sesuai dengan itinerary saya, saya masukkan juga hari apa pakai pakaian apa, sehingga kita tidak akan terlalu banyak membawa pakaian. Atau kalau ada rencana untuk membeli kaos atau pakaian, maka kita bisa kosongkan beberapa hari itu dan kita ganti dengan memakai kaos baru di tempat tujuan, agak aneh ya? Haha tapi demi tas yang tidak terlalu berat, berat bagasi juga supaya tidak overload. Dalam beberapa perjalanan saya sebagai backpacker malah anti dengan membeli bagasi, jadi hanya bertahan dengan space kabin tujuh kilogram saja untuk pulang dan pergi, kebayang kan berapa berartinya space ransel saya? Hehe 
Pokoknya kalau perlu membawa tas sekecil-kecilnya dan kadang membawa beberapa kantong kosong siapa tahu kurang space jadi bisa dijadikan cadangan.  
Ada pengalaman lucu dan sedikit malu ketika saya mau pulang dari Vietnam ketahuan sama petugas maskapai warna merah asli negeri jiran itu kalau ransel saya lebih sampai 11 kg, saya pun minta mundur dan saya pindah-pindahin barang-barang yang berat ke kantong tenteng kosong cadangan saya, alhasil saya kembali ke meja counter dengan tersenyum bahagia ketika ditimbang lolos dan diikuti dengan senyuman petugas counter. Akhirnya saya membawa ransel saya dan tas tenteng belanjaan. 
Satu hal yang menarik ketika akan berpergian adalah melihat tempat tersebut dari Google Earth, saya pun demikian sebelum pergi ke Sydney, saya lihat-lihat sekitar penginapan di Elisabeth street, Pitt street dan tampak kota secara umum. Tak lupa saya amati letak-letak tempat yang ingin saya kunjungi mulai dari the Rock, Opera House, Toranga Zoo, Sydney Tower, Bondi Beach, dan lainnya. 
“Bu, aku pamit dulu ya sebentar mau pergi seminggu ga di Jakarta.” telp saya ketika berjalan ke selasar bandara Soetta. “Mau kemana lagi? Yang hati-hati ya? Jangan lupa sholat dan makan tepat waktu” Tanya Ibu dengan nada serak seperti sedang batuk. “Sydney Bu, Australia… yang kemarin aku ceritain” Jawabku singkat. 
“Oh sekarang to?” Ibu kelupaan dan menjawab telp rumah kediaman di Jogja. 
“Iya, akhirnya jadi kenyataan ya Bu, dulu ga kebayang akan sampai ke luar negeri. Sekarang bisa kemana-mana” Tambahku. 
“Yang hati-hati dek, aku doain setiap habis sholat semoga kamu selalu dilindungi Allah SWT disetiap perjalananmu, semoga kamu sukses…” Doa ibu kepada anaknya ini. 
“Terima kasih Bu…” 
—- 
“Hai Jar, sudah lama nunggu?” tanyaku pada Fajar, teman perjalananku kali ini… 
“Sudah lama tau, kemana aja loe? Yuk langsung check in biar ga telat..” ajak Fajar. 
“Okelah, Sydney we are coming!!! Yeaahh!!” teriak saya pelan sembari mengangkat kedua tangan serasa penuh kemenangan. 
 
Landscape kota Sydney
 
/to be continued

Leave a Reply