Travelpolitan.com

Keliling Istanbul dalam dua hari saja! Part#1 – Persiapan

“Serius cuma 2 hari saja ke Turki? Tidak kecepatan? Tidak rugi biaya tiket pesawat belum lagi biaya visa?” Kata seorang sahabat di direct message Instagram saya ketika saya menceritakan keinginan untuk mengunjungi negara bekas kekaisaran Ottoman itu.

“Nggak rugi lah, kan sekalian transit. Kebetulan akan ada perjalanan ke Stockholm lagi bulan Mei” jawab saya.

Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun yang lalu ingin mengunjungi Ibukota Kekaisaran Romawi itu, tetapi karena suhu politik yang memanas beberapa tahun terakhir, beristiwa ledakan yang terjadi dan cerita tentang kelompok separatis itu makanya saya urungkan niat mengunjungi Istanbul.

Dan beruntunglah saya bulan Mei ini bisa berkunjung kesana. Kali ini saya sengaja kurang ada persiapan yang matang untuk perjalanan ke Istanbul ini seperti halnya dulu ketika masih semangat-semangatnya travelling. Ya misalnya saja memilih tempat tujuan wisata di tempat tujuan, mencari tahu how to get there -nya, dan lain sebagainya. Lagian, trip kali ini cuma 2 hari dan tidak bisa keluar kota seperti halnya Pamukkale yang terkenal dengan Cotton Castle – nya,  , kota tua di jaman Romawi, Ephesus, Cappadocia dengan bentang alam yang menakjubkan beserta balon-balon udaranya, Mount Nemrut, Aspendos dan Pergamum yang merupakan reruntuhan kota kejayaan kekaisaran Romawi.

Blue Mosque dengan latar belakang selat Bosphorus. Via BBC.com

Tapi singkirkan dulu semua keinginan itu, kali ini saya hanya punya 2 hari saja di Istambul sambil mengharap semoga bisa kembali lagi ke negara ini lain kali.

Visa

Membuat visa turki buat warga negara Indonesia adalah mudah. Kita hanya perlu untuk apply online. Tinggal isi formulir yang tersedia di portal ini : https://www.evisa.gov.tr/en/ , dan ditunggu approvalnya dalam beberapa hari kedepan.

Ada 3 cara untuk mengurus e-visa ini yaitu : apply, payment dan download.
Biaya yang diminta untuk pengurusan e-visa ini adalah 25 USD bisa dibayarkan melalui kartu kredit maupun debit Visa, Master Card dan Union Pay.
Visa berlaku dengan total tinggal selama 180 hari atau maksimal 30 hari per masa tinggal di Turki.

Ada cara lain untuk bisa masuk ke negara Turki dengan menggunakan Visa on Arrival. Indonesia termasuk yang diberikan kemudahana itu oleh pemerintah Turki. Pengurusan visa on arrival itu bisa diurus ketika kita datang di bandara Attaturk Istanbul. Biaya yang harus dibayarkan 35 USD.

Menurut saya mending membuat e-visa dari jauh-jauh hari untuk memastikan perjalanan lancar dan tidak perlu menunggu antrian VoA lagi begitu mendarat di bandara Istanbul.

Transportasi

Untuk penerbangan dari dan ke Istanbul sendiri sebenarnya sudah banyak sekali baik yang langsung maupun transit. Sederet nama maskapai seperti Turkish Airline, Etihad, Qatar dan Emirates bisa didapatkan di situs-situs pencari maskapai seperti SkyScanner dan lain-lain.

Transportasi di bandara Ataturk Istambul ke pusat kota, dikarenakan perjalanan saya hanya 2 hari maka saya hanya akan tinggal di daerah wisata Sultan Ahmet.

Beberapa moda transportasi bisa dipilih seperti:
– Taxi, taxi berwarna kuning sudah tersedia di luar bandara. Biasanya akan dikenakan tarif 50-60 TL (Turkey Lira) untuk menuju kawasan Sultanahmet.

– Metro dan Trem, menggunakan moda ini termasuk yang paling efektif dan murah. Kamu bisa menemukannya dengan mengikuti papan informasi metro dari pintu keluar pilih belok kanan, dan diujungnya ada pintu masuk di sisi sebelah kiri.

Untuk membeli tiket dibutuhkan uang tunai yang bisa diambil dari ATM di sebelah vending machine.
Untuk pengoperasian sedikit ribet dikarenakan menggunakan bahasa Turki. Jadi kuncinya adalah : masukkan uang 8 TL ke mesin, tekan tombol hijau (start) dan pilih yang ada tulisan 8 TL. Kita akan mendapatkan sebuah kartu yang bisa digunakan sebanyak 2 kali perjalanan.
Selain kartu, kita juga bisa menggunakan token yang keluar dari vending machine itu.

Setelah mendapatkan kartu, kita akan menyurusi eskalator ke bawah tempat stasiun yang bernama Havalimanı, berada yaitu stasiun yang ada di bandara Ataturk ini.

Setelah 4 stasiun kita harus turun di stasiun Zeytinburnu, dan harus keluar jalur untuk pindah ke shelter trem di sisi kanan begitu kita keluar stasiun Metro. Untuk menggunakan trem ini kita perlu tapping kartu lagi. Kemudian lihat peta dan keluar di shelter Trem di Sultanahmet.

– Rental Mobil, untuk rental bisa dilakukan di sebelum keluar bandara ada beberapa kios yang menawarkan paket sesuai tujuan kalian. Kurang lebih 35 USD dari bandara ke Sultanahmet ataupun Taksim

Penginapan

Segala jenis penginapan dapat dengan mudah dipesan di portal pencari hostel dan hotel di sekitaran Sultanahmet seperti Agoda. Untuk ruangan kamar yang cukup besar untuk satu orang saya cukup membayar Rp. 396 ribu dari sebelumnya Rp. 1,5 Juta.

Tips :
– Jika berpegian membawa koper yang besar lebih baik tidak memilih hotel di daerah Sultanahmet karena perjalanan menuju kawasan penginapan cukup jauh, kurang lebih 300-500 meter, dan jalanan berupa paving block yang membuat koper menjadi berisik.
– Ketika memasuki gang-gang di belakang Blue Mosque akan ada orang-orang yang menawarkan kamar. Untuk itu hati-hati karena mereka akan meminta tips yang tinggi, bahkan memberikan harga kamar yang lebih mahal. Jadi lebih baik kita melakukan pemesanan sebelum kedatangan.

Mata Uang

Mata uang Negara Turki adalah Lira Turki atau biasa disingkat menjadi TL. Mata uang ini dari tahun ke tahun mengalami depresiasi yang cukup tinggi.Beberapa teman saya yang mengunjungi Negara ini di tahun 2013-2014 nilai tukar TL masih sekitar Rp. 6,000 /1TL, ketika saya pergi Mei 2018 1 TL : Rp. 3,200. Dan saat ini di September 2018 menjadi Rp. 2,300.

Jika kamu ingin kesana, tentu saja harga-harga menjadi lebih murah.

Blue Mosque

Masjid Biru ini adalah tempat tujuan saya setelah selesai dengan urusan check in di hotel, cukup berjalan 5 menit dari penginapan sudah sampai di masjid megah ini.

Hagia Sophia

Hagia Sophia terlihat dari air mancur di pelataran SultanAhmet center. Dokumen Travelpolitan.com

Bangunan megah ini dulunya merupakan Katedral yang pada penguasaan dinasti Ottoman dirumah menjadi Masjid, kini setelah merdeka bangunan ini dirubah menjadi Museum.

Topkapi Palace

Gerbang Istana yang megah. Dokumen Travelpolitan.com

Adalah istana para Sultan ketika dinasti ini memerintah. Istana yang saat ini dijadikan museum ini sangat luas dan memiliki banyak ruangan dan koleksi.

Grand Bazaar

Gerbang Grand Bazaar yang tutup di hari Minggu. Dokumen : Travelpolitan.com

Pasar terbesar di kota Istambul yang menawarkan banyak barang-barang. Tetapi pasar ini tutup pada hari Minggu. Sayang saya melewatkan untuk menikmati pasar ini.

Galata Tower

Gatala Tower terlihat dari kejauhan. Via Viator.com

Semua tentang destinasi di Istambul ini akan saya lanjutkan ke part#2.

Copyright www.travelpolitan.com @2017

Leave a Reply