Travelpolitan.com

Belagak Gilak di Timur Tengah: #4 Jordania Titik Atas Sampai Titik Bawah

4 Mei 2014

Terima kasih Palestina atas kesempatan yang diberikan, semoga rahmat Allah menyertai dan melindungi.

Menyebrangi border bukan masalah, kita bisa lewat dengan lancar. Yang agak lama adalah nungguinnya, dari mulai nungguin paspor kelar di cek, sama nungguin supirnya jemput. Udah beberapa rombongan seliweran dan kita belum dijemput juga. Waktu udah menunjukkan tengah hari, udah kumel, lusuh, terik, rasanya cuma mau gelundungan di hotel.

Pada akhirnya kita dijemput sama supir, dan membawa kita ke hotel. Waktu itu kita cek hotel, nemuin yang paling deket pusat keramaian ada di Jordan Tower. Reviewnya di booking.com bagus-bagus, jadi kita booking di situ. Kaget banget kita waktu liat bahwasanya ini bukan hotel, melainkan hostel. Cuma gimana ya mereka orangnya baik-baik sih, dan helpful banget. Kamarnya sendiri agak debuan, beda sama yang di foto. Kamar mandinya di dalem, nggak share, tapi penempatannya agak aneh, ngebikin kita susah bergerak. Akhirnya meski Amel pake bengek-bengek dan kita mandi dengan perjuangan, akhirnya kita tetep stay juga. Next time, mending pilih ibis gitu ajalah ya. Dari seluruh perjalanan, hotel yang ngaco cuman ini doang.

Untung lokasinya strategis, dan berhubung hari ini nggak ada acara, jadi kita bisa jalan-jalan keliling pasar buat jajan oleh-oleh dan beli supplies (beli roti prata buat snacking). Belanja di pasar sini murah-murah banget, secara kita abis beberapa hari pake Shiekel, berasa signifikan. Selain murah, ya Allah laki-lakinya guanteng-guanteng!!! Kalo ada 10 laki-laki, yang cakep ada selusin!!!

Kita beli beberapa keperluan kayak roti, sama setiap saat kita bisa nongkrong minum fresh juice hanya dengan bayar 1 JD (Jordanian Dollar).  Makanannya juga lumayan lah, street food gitu, nggak resto, tapi oke kok. Termasuk perkara souvenir juga udah kita beresin di pasar, supaya kita tinggal menikmati jalan-jalan. Orang di sini ramah dan generous. Well, setelah mengalami macem-macem hal, kayaknya dibaikin dikit udah hepi banget sih. But I do believe orang Jordan memang baik hati. Setelah keliling di sekitar, maka kita balik ke hotel buat nyuci2 dan istirahat. Besok tour akan dimulai.

Breakfast di HOSTEL gue akui enak. Oke lah untuk kelas hostel. Serunya kalo di hostel, kita lebih ngobrol sama orang-orang, cerita-cerita tentang perjalanan mereka, dan sharing ada apa aja di sekitar sini. Kita sempet ngobrol sama orang Indonesia yang kerja di Arab, lagi liburan ke sini. Terus ada juga orang yang satu pesawat sama kita, bekpeker dari Eropa. Selesai breakfast, kita dijemput sama Wajdi, appointed escort dari Jordan Select tour. Kita memang punya itinerary, tapi kita juga ngobrol sama dia, siapa tau dia punya suggestion yang lebih baik. 

5 Mei 2014

Rute hari ini adalah ke Roman Theater & Citadel

Roman theater 
Adalah satu dari banyak peninggalam bangsa Romawi. Ternyata letaknya walking distance dari hostel. Hahahah seandainya kemarin udah tau, lumayan bisa liat-liat ke situ ya kemari nsore. Oneng! Ukuran therater-nya sendiri nggak seberapa besar, but good size. Lumayan kalo satu desa kumpul bisa lah muat (hahaha kayak ngerti aja satu desa berapa orang!). Tempatnya cukup terawat, dan relatif bersih.

Jalan sedikit, di sebelahnya kita bisa liat Jordan Museum tentang kehidupan jaman dulu. Keliatan bahwa bangsa ini unggul dalam sulaman, perhiasan perak, dan mosaic. Yang terakhir disebut, kayaknya sama ya, seantero daratan Timur Tengah. Kemarin di Palestina juga liat peninggalan-peninggalan sejarah yang mosaicnya cantik banget. 

Nggak perlu waktu yang lama untuk explore area ini, kita lanjut ke Citadel. 

Citadel
Dimanapun itu, selalu ada di tempat tertinggi, karena salah satu fungsinya adalah untuk memonitor keamanan dan penjagaan wilayah. Kagum ya, sama bangsa Romawi dengan arsitekturnya yang berkarakter. Orang Amman sendiri bilang Citadel ini Jabbal Qal’ah. Cucok! Karna Jabbal artinya gunung/bukit, Qal’ah artinya benteng. Tempat ini penting dikunjungi kalo ke Amman karena termasuk salah satu UNESCO World Heritage Site.

Highlight dari Citadel ini adalah The Temple of Hercules, atau Kuil Herkules. Sekarang yang bisa diliat tinggal kolom-kolom tinggi, sementara sisanya runtuh. Katanya dulu yang membangun kuli ini adalah Hercules nya sendiri. Bisa begitu, atau bisa juga kuil ini dibangun untuk memuji Herkules. It’s still debatable. Penampakannya bisa diliat di bawah, yang paling kiri atas. Asik ya, fotonya sok artistik gitu.. *winkwink #eaaa   

Menjelajah Citadel sama kayak museum di tempat terbuka. Sesuai tata letaknya yang di atas bukit, maka tentunya banyak angin, selain banyak dapet sinar matahari juga. Enak banget duduk-duduk di atas bukit dengan pemandangan kota Amman (gambar di atas: kanan bawah). Padahal Jordania negaranya yaaa nggak tajir-tajir banget, cuma mereka lebih bisa menjaga situs sejarahnya.

Meskipun nggak lagi dalam bentuk yang utuh, cukup seru keliling melihat sisa-sisa kejayaan bangsa Romawi. Kalau nggak salah, perjuangannya juga gila sih. Romawi yang di sini ini adalah Romawi bagian Timur. Ribut sama Persia, perang terus menang. Ga lama, gantian dikalahin abis-abisan ama Persia. Udah lama dan keliatan kere amatan, ambisi buat ambil alih kekuasaan tetep ada. Embisiyeus juga si Romawi ini eiym? Saking besarnya ambisi, sampe minta gubernur-gubernur wilayahnya nyerahin emas dan peraknya buat biaya perang. Bangsa lain ga ada yang percaya Romawi bisa mengambil alih kekuasaan. Ternyata Romawi bisa
menang, dan mengambil alih wilayah kekuasaan, termasuk Jerussalem.

Selain Temple of Hercules, ada Ummayad Palace. Penanda masuk area ini, sekarang tinggal gerbang batu. Ga jauh dari gerbang, kita bisa liat ada bangunan yang pake kubah. Berhubung kubah identik sama mesjid, kita kirain itu mesjidnya, eeh nggak taunya bukan (gambar di atas: kiri bawah; gambar di bawah: semuanya). Ternyata ini adalah salah satu bagian istana yang sudah mengalami restorasi, bukan masih begini dari dulu (pantesan bagiannya udah agak komplit dibanding sekitarnya).  Di luar bangunan berkubah juga masih banyak bagian reruntuhan dari istana Bani Umayyah (dari jalur keluarga Muawiyah bin Abu Sufyan), misalnya ada jalan besar yang luas, lalu area dengan pilar-pilar tinggi yang diduga berfungsi sebagai aula, dan lain sebagainya.

Nah gue agak lupa abis ini kita kemana..

Yang jelas saat tiba waktunya makan malem, Wajdi – escort kita mengundang kita untuk makan di rumahnya bersama seluruh keluarganya to experience the authentic Jordanian meals. And trust me, it was the best nasi mandi ever! Roti, humous (enak banget humous bikinannya Sana’a), acar sayur, nasi mandi ayam, meeennn… home made cooking at its best. Ditutup dengan secangkir kecil kopi rempah kapulaga. Di sini kalo bilang ngupi, kopinya di gelas kecil. Lebih kecil dari gelas kita di Indonesia. Apalagi kalo dibandingin ama gelas babeh, jauh banget bedanya. 

6 Mei 2014

Pheuw, itinerary kita luar biasa ketat hari ini. Setelah breakfast, kita berangkat ke …

The Cave of 7 Sleepers
Konon ini adalah gua dimana ashabul kahfi bobok-bobok, kayak yang ditulis di surat Al Kahfi. Sempet ada insiden dimana kita nggak bisa masuk karna pintunya ditutup. Tapi entah gimana caranya, kayaknya akhirnya orang yang in-charge dateng, dan membuka pintunya itu. Pintunya kecil mungil, sementara dalemnya lumayan besar. Bagian kanan dan kiri ada seperti kotak-kotak yang katanya tempat mereka tertidur, sementara bagian tengahnya kayak aula kecil. Mungkin ini tempat mereka makan, ngobrol-ngobrol. Hahahha apaini mulai berasumsi macem-macem. Di atas gua ashabul kahfi, masih nampak bekas reruntuhan mesjidnya. Jadi ada jalan dari atas (mesjid) menuju gua lewat samping. 

Madaba
​Next stop, Madaba. Di Madaba ini kita bisa temuin peta Mosaic paling besar. Nggak seluruhnya keliatan, tapi bisa keliatan sebagian besar. Kebayang kan gimana ribetnya bikin peta mosaic? 

Mount Nebo
Lepas dari Madaba, kita menuju ke Mount Nebo. Menurut cerita, nabi Musa as naik ke atas bukit ini untuk melihat “Tanah yang Dijanjikan”. Sebenernya dari atas ini ada banyak daerah yang bisa keliatan. Bentuk peninggalan nabi Musa as sendiri ditandai dengan replica tongkatnya yang bsar, terpampang di atas bukit. Oh satu lagi, ada mosaik yang gede banget, yang masih dalam proses restorasi, dan ada gereja yang sedang dibangun karena situs ini adalah situs suci kaum Nasrani.  

Dead Sea
A.K.A Laut Mati. Dari Mount Nebo di atas gunung, kita turun jauh ke titik terendah bumi, yaitu di Laut Mati dengan 417,5 m di bawah permukaan laut. Nggak ada tempat umum untuk menikmati laut mati, kita harus masuk ke dalam salah satu hotel. Kebetulan tour kita bekerja sama dengan hotel Holiday Inn. Asliikkk ini kayak hotel paling mewah yang pernah kita datengin sepanjang perjalanan. Ngebayangin rate-nya aja langsung berasa bokek..Hahahaha #mediocreoslyfe

Pantainya hitam, dan areanya dibatasi. Sekelilingnya sedang ada pembangunan, sehingga nggak terlalu bebas. Di tepi pantai ada banyak bangku untuk duduk-duduk. Awalnya enak, tapi lama-lama puanas juga yak! Hahahaha. Belaguk sih kita sok lama-lama. Minum air sampe abis nguap, dan akhirnya ngerasain cipak cibung kaki Dead Sea. Kirain airnya panas, nggak taunya airnya dingin banget!

Abis itu keliling hotel sebentar, astagah ini hotel ca’em dan geda banget ya. Kalo nginep sini ya udahlah nggak usah kemana mana lagi, keliling aja menikmati fasilitas hotel. Lagi duduk di hotel nemenin Wajdi ngerokok, kita baru tau kalo ternyata dia punya isteri dua. Gile bener dah. Tapi ya, ngobrol-ngobrol sama dia, dapet perspektif lain tentang poligami. Kalo di Indonesia kan kayaknya hal yang ‘nyebelin’, tapi kalo di sana emang udah biasa aja. Dan dia bilang bahwa nikah lagi itu bukan ditching yang lama, dia tetep bertanggung jawab penuh untuk kehidupan kedua isterinya. Which is, tambahan kewajiban buat dia yang nggak mudah buat dijalanin. Istrinya yang kedua pun bukan gadis, tapi janda. Janda muda seeek *wink wink*. Well, mungkin perkara nikah lagi di sini hal biasa (bagian dari kultur) dan semua kembali lagi gimana cara dia ngaturnya. Menurut dia seru loh, pake acara ngambeg dan berantem, tapi in the end, semua baik-baik aja. At least menurut dia baik-baik aja. Ternyata emang dasar sebagai perempuan-perempuan penuh perhitungan dan semi kikir, kita diem-diem langsung berhitung, berarti gajinya dia musti berapa tu yak? Hahaha ….

Dari Dead Sea, kita balik ke Amman, makan malaem di rumah Wajdi (lagi), dengan suguhan makanan rumah paling enak. Yang bikin kita hepi banget sama Wajdi, adalah dia sangat welcome ke kita. Dia bahkan tunjukin ke kita spot favoritnya dia, dan hobinya dia nanem kembang. So sweet ya…

Perjalanan ini nggak sekedar wara wiri ngeliat situs sejarah, tapi juga mengenal hidup orang lokal up close and personal. People say:

“travel is like knowledge, the more you see, the more you know you haven’t seen”

Copyright www.travelpolitan.com @2017

Leave a Reply