Travelpolitan.com

Belagak Gilak di Timur Tengah: #1 Prahara Koper dan Hallo Jerussalem!

1 Mei 2014

Here we go, akhirnya nyentuh Amman juga setelah Jumat kemarin pulang kantor sempet senewen buat nyampe Soetta on time atau nggak. Ada banyak faktor yang saling berhubungan sih, dan kayaknya ini emang sudah jalannya. Dari mulai mamah yang telat nyampe kantor, mobil yang bensinnya blom diisi, susahnya cari taksi, dan traffic Jakarta yang gila banget, Alhamdulillah berakhir tepat di counter check in 15 menit sebelum counternya tutup. 


DRAMA yes? YEEESSS!!

Sampai di Amman masih pagi. Kita berencana untuk langsung menuju Jerussalem dari bandara. Sambil menunggu koper kita keluar di belt, orang dari Ahalan tour udah standby untuk assist VOA dll. Tapi lama kita nunggu (udah ampe jongkok-jongkok di pinggiran), koper nggak keluar-keluar. Hal serupa dialami beberapa turis yang dateng bersamaan. Nggak masalah buat mereka karena mereka akan ada di Jordania beberapa hari. Sebaliknya, problem besar buat kita karna kita mau langsung ke Jerussalem, dan Etihad nggak bisa anter ke Jerussalem. The best thing they can do adalah untuk kirim ke Tel Aviv, yang letaknya satu jam perjalanan naik mobil dari Jerussalem. Kita mulai pusing, karna gimana bisa squeeze waktu untuk ambil koper, sementara nggak mungkin ninggalin koper di Amman sampe kita balik ke Jordan, secara segala alat-alat ada di situ. Mau nggak mau kita harus putuskan hari itu. Keselnya lagi, orang Etihad di bandara itu judes ga karuan pengen gue jambak rasanya. Masih dalam keadaan bingung dan mikir,  akhirnya kita memutuskan lanjut ke Allenby Bridge untuk masuk ke Jerussalem. 

Kita nggak nemuin kesulitan menembus 5 check point, bahkan ada di loket sebelah yang nggak selesai-selesai ditanyain petugas imigrasi. Kita mah, berbekal hard copy bukingan tour aja makanya lancar. Begitu dia tanya macem-macem, sodorin bukingan tur, langsung lolos. Masuk Jerussalem kita hanya dikasih sebuah kartu pas yang harus dibawa-bawa kemana mana. Bentuknya seperti KTP sementara, kecil, ada fotonya. Skedul kita jadi agak mundur karna insiden koper.

Lepas border, kita udah ditungguin sama tour guide untuk menyusuri West Bank. Tujuan pertama kita ke Jericho, kota tertua di dunia, yang juga merupakan kota terendah di dunia dengan letak 244m di bawah permukaan laut. Mengingat ini kota tertua di dunia, tentu bayangan kita bakal canggih, seru, rame. Ternyata jauh dari itu. Kotanya kumuh, dan hampa, padahal di daerah ini agrikulturnya cukup dapat dibanggakan. Katanya karena Jericho ada di bawah kekuasaan Palestina, sehingga jauh kalau dibandingkan dengan kota-kota yang di bawah pemerintahan Israel. 


Obyek utama di Jericho adalah Hisham Palace, istana musim dingin yang didirikan oleh Hisyam bin Abdul Malik dari dinasti Bani Umayyah (dari jalur Muawiyah bin Abu Sufyan). Luasnya 60 hektar, namun baru sebagian kecil yang berhasil ketauan. Mungkin juga karna kendala dana makanya nggak dilanjutin kegiatan arkeologinya. Artefak-artefak yang ditemukan banyak juga yang diangkut untuk dipajang di Rockefeller Museum. Hisham Palace ini peninggalan yang cukup penting di dunia, termasuk dalam sejarah Islam sendiri. Dari rekayasa arsitektur, kebayang kalo istana ini megah banget. Yang bisa kita lihat memang cuma sedikit, tapi cukup bisa membangkitkan imajinasi letak ruang-ruangnya. Mozaik merupakan seni handalan, bahkan sebagian ruangan lantainya mozaik cantik. Warna dari mozaik ini nggak boleh terpapar sinar matahari dengan langsung karena bisa rusak. Jadi lantai mozaiknya ditutupi pasir, atau ada di dalam ruangan. Salah satu yang bisa kelihatan agak jelas adalah di area pemandian. Biar apa ya? biar makin lama mandinya apa gimana?​


Dari Hisham Palace, lanjut kita ke Mount of Temptation sebentar. Ini adalah bukit dimana konon nabi Isa as digoda oleh iblis. Dari kejauhan, di tengah-tengah gunung, kita bisa lihat ada biara Greek Orthodox Monastery of the Temptations. Kalo liat di foto, kayak cuma gitu doang, tapi beneran deh, rasanya beda waktu bener-bener liat situs sejarah dimana kita bisa relate sama cerita sejarahnya. Ada 3 gunung di situ, gue lupa sih apa hubungannya ama godaan apa nggak. Meski nggak ada restoran, resort, atau tempat lain untuk menikmati pemandangan situs ini, pengunjungnya relatif rame. Berhubung ini panas banget, liat orang jualan fresh orange juice tu hadeeuuuuhhh ampun menggoda banget. Ternyata bener, rasanya enak buanget!!!

Picture


Masih di west bank, kita lanjut ke Hebron untuk ziarah ke Makam nabi Musa as di mesjid Al-Khalil. Tempatnya bener-bener di tengah padang pasir. Sebenernya ini adalah sebuah tempat yang dinisbatkan sebagai makam nabi Musa as untuk mempermudah siapa saja yang ingin berziarah kepada Beliau. Sedangkan letak makam nabi Musa as yang sesungguhnya, nggak ada yang tau. Tempatnya sendiri gersang bener (yaeyalah kan di padang pasir), dan sejujurnya nggak terlalu bersih. Bagian laki-laki dan perempuan dipisah, jadi kita yang perempuan cuma bisa ngintip makamnya, sementara areal perempuan adalah ruangan kecil di samping areal laki-laki. Karpetnya kotor seperti jarang dibersihkan, tapi ya sudahlah kita berziarah aja, siapa tau abis doa bisa dapet inspirasi, itu koper yang ketinggalan mau diapain enaknya.


Masih di Hebron, kita lanjut ke Maqam Nabi Ibrahim as. Salam dan shalawat untukmu nabi Ibrahim as. Ya ampun di Hebron ini emang beneran kumuh deh. Mesjidnya besar, tapi nggak banyak yang dateng. Seneng banget bisa ziarah ke makam nabi Ibrahim as meski bukan makam yang sesungguhnya. Lagi-lagi tempat ini dibuat untuk mempermudah keperluan ziarah. Di dalam mesjid terdapat lubang yang sekarang ditutup, tapi di dalemnya adalah konon gua yang dibuat oleh nabi Ibrahim as. Kita bisa ngintip, ada lampu kecil yang nyala sebagai penanda. Selain itu, baunya juga wangi, banyak orang yang baca doa di sini. Bukan untuk apa-apa, yaa sekedar berdoa aja semoga situs ini senantiasa dalam lindungan-Nya. Konon di sini juga ada makamnya Siti Sarah dan  nabi Ishaq as dan beberapa bilik yang dinisbatkan sebagai makamnya si A si B si C juga. tapi nggak semuanya kita datengin untuk ziarah. 


Hari sudah sore, waktunya kita ke Bukit Sion, dan menikmati sore dengan melihat pemandangan Old City dari kejauhan. Berdiri di bukit Sion, kita bisa lihat jajaran makam prajurit perang salib sampai ke Old City . Di bukit ini juga akhirnya kita memutuskan untuk menjemput koper kita yang gajebo itu ke… Ben Guiron airpot, Tel Aviv. The bright side is, mungkin kita jadi salah dua dari sebagian orang Indonesia yang pernah menginjakkan kaki di Ben Guiron. Kenapa? karna kita nggak punya hubungan diplomasi dengan Israel, ya kita nggak boleh masuk wilayah mereka. Menurut perhitungan waktu, dari sini kita hanya punya waktu kira-kira 1(satu) jam sebelum dijemput driver lain yang asli orang Israel (Pak Asher) untuk bantu kita ambil koper. 

Ajigileeeee ada-ada banget yeee 

Picture




Hari ini kita memang nggak ada jadwal masuk area Al Aqsa, tapi ngeliat kubah emasnya dari kejauhan aja udah bikin jantung berdesir. Assalamualaikum, Palestina. I could stay here all day watching the sunset. Tapi seiring matahari bergulir, sebaiknya kita kembali ke hotel

Hotel kita namanya Prima Park, jauh dari Old CIty. Tapi hotelnya bagus, nyaman banget. Letaknya di daerahnya orang Yahudi. Mungkin kita – dua anak prempuan berkerudung – aga jarang ditemui ya di sini. Kita beneran kelaperan, jadi setelah check in, bebersih seadanya, mulai deh celingukan cari info tempat makan atau super market. Sayangnya nggak nemu info apa-apa dari concierge, dan akhirnya kita memutuskan untuk jalan kaki keluar hotel sekalian liat-liat. Di tengah jalan kita ketemu orang, kita pikir kebetulan nih, bisa ditanyain. Eeeh pas disamperin dia malah ngabur loh, kali dikiranya kita mau ngapain gitu ya? Hahahaha. Tapi salah seorang dari rombongan mereka bisa bahasa inggris, langsung kita tanya di sekitar sini dimana letak supermarket, atau tempat buat beli makanan terdekat. Dia bilang, nggak ada, palingan ke bioskop (nunjuk ke bioskop yang berjarak 2 lampu merah dari tempat kita berdiri). Ketawan ya, kebiasaan dapet hotel yang deket sevel, atau mini market, giliran dapet hotel cakep, mati gaya gabisa cari jajanan murah. Yasudah, jalanlah kita ke bioskop, yang sampe sana tetep nggak nemu supermarket. Akhirnya untuk mempersingkat waktu, makanlah kita diiii.. Mcdonalds Kosher! Untungnya di sini meski apa-apa MUAHAL.. sekali lagi MUAHAL… tapi dijamin halal. Okelah kita take away 2 paket burger, untuk dimakan dlm perjalanan ke Tel Aviv. 

Ga lama sampe hotel (masih ngos ngosan abis jalan cepet, soalnya itu bioskop nggak deket-deket amat), kita udah dijemput sama Pak Asher, yang penampakannya bapak-bapak bener. Kayaknya dia udah diceritain background kenapa kita musti ke Tel Aviv, jadi sepanjang jalan dia sibuk menenangkan kita. Atau mungkin udah keliatan ya kalut banget? Kira-kira jam 10-an kita sampe di Ben Guiron, Tel Aviv, kita bisa masuk dengan mudah. Yang nggak mudah adalah dapetin kopernya balik, karena udah nggak ada orang di meja Lost & Found. Menurut pekerja di sana, lost & found terakhir diambil jam 8 malam. Lha gimana mungkin, orang kopernya aja baru sampe. Taunya baru sampe? soalnya kita ngintip2 di sela-sela pintu pegawai, dan itu koper baru diturunin dari belt *Bhihik!*. Mulai bingung kan kita, tapi Pak Asher meyakinkan kalo koper kita pasti bisa diambil. Entah dia nego apaan sama orang bandara yang notabene temen-temennya dia juga, akhirnya 40 menit kemudian kita boleh masuk lewat pintu pegawai untuk ambil koper, dan keluar dari pintu utama LIKE A BOSS!! Bwahahahak! Legaaaaaaa banget koper udah balik. Pak Asher nungguin di depan pintu dengan senyum lebar. He’s a very nice guy. Berhubung udah makan, sepanjang perjalanan pulang kita tidur dengan suksesnya. Ongkos yang harus kita keluarin untuk Pak Asher nemenin kita ambil koper adalah ….. KECRIING! US$ 125 ajaaaaaa. Untung bener ya kita punya spare duit untuk emerjensi. Alhasil untuk perjalanan ke depan, buffer emergency cash kita berkurang jauh.

​Pada akhirnya malem ini, bisa mandi dan bobok pules, alhamdulillah.
Jerussalem, bener-bener luar biasa… 

Next? Cuss ke cerita perjalanan sekitar Betlehem dan Old City di Jerussalem!

Disclaimer: All pictures are writer’s private collection 

Leave a Reply