Travelpolitan.com

Antara Limosin dan Mall Besar itu – Bangladesh Part #1

Ya… Siapa yang tak menginginkan sedikit hiburan yang lebih modern ketika beberapa hari digempur oleh kerjaan dan meeting di sebuah Negara dunia ketiga yang minim hiburan? Ketemu dengan orang-orang itu-itu saja dan setiap hari cuma bisa bolak balik antara hotel dan kantor.

Saya cuma ingin melihat sedikit kehidupan yang selama ini mudah didapatkan di Jakarta, masuk mall ngeliat gerai-gerai toko pakaian, gadget dan yang paling ngangenin adalah makanan-makanannya.. Hmm.. Mulai dari perpaduan nasi pulen dengan sayur atau sop yang bening dan bersantan, ataupun lauk pauk padang yang mak nyuss.. Pokoknya hal-hal yang tidak berbau kari.

Yah maklum karena setelah beberapa hari di Dhaka saya sangat kangen dengan makanan non kari, dan minuman non milk dan jahe.

Setelah kami menyelesaikan meeting sekitar pukul lima sore itu di meeting room sambil membereskan laptop dan charger sambil bertanya kepada Rajib, salah satu teman kantor saya disini : “I would love to drink Starbucks, do we have here?”. “What is that?” tanya balik dia. “Short of a café..” jawab saja singkat dan masih melihat kebingungan di muka Rajib sambil mengernyitkan dahi.

“How about mall? Which one is the closest mall from the office?” saya menanyakan lagi masih sambil penasaran. “Oh yeah there is, the name is Pink City, a big mall…” dia menjawab dengan bersemangat. Kemudian lanjut menjelaskan bagaimana kesana.

“Alhamdulillah…” batin saya ternyata harapan saya akan cepat menjadi kenyataan.
Langsung saya berberes dan menuju meja resepsionis di lobby kantor untuk memesan mobil supaya diantarkan ke Pink City untuk mengobati rasa kangen saya pada suasana Jakarta, at least bukan disini.

—–

Walaupun sudah beberapa kali ngelakuin solo travelling di beberapa kota dan Negara, pengalaman dengan Dhaka agak kurang bersahabat dari awal, kadang feeling kurang bagus di awal bisa mempengaruhi kejadian-kejadian di kemudian hari.

Apalagi ketika mendarat pertama kali di bandara Hazrat Shahjahal tengah malam jadi apa yang terlihat hanyalah kegelapan, maksudnya gelap karena kurangnya pencahayaan di sepanjang perjalanan.

Begitu pesawat mendarat, seperti biasa kita digiring ke arrival hall. Proses imigrasi tidak terlalu lama cuma ditanya untuk urusan apa pergi ke Bangladesh dan dimanakah hotel tempat menginap selama di salah satu Negara Islam ini. Karena dari awal saya sudah mengurus Visa sewaktu di Jakarta dan semua booking hotel tersedia jadi tanpa babibu saya secara resmi sudah memasuki Negara ini.. Hore!

Sebelum memasuki arrival hall ada tersedia beberapa money changer. Sekilas saya bandingin kurs USD ke Taka dari beberapa stand dan saya akhirnya memutuskan untuk memilih salah satu diantaranya yang memberikan harga terbagus. Dari Jakarta saya hanya membawa mata uang USD karena mata uang Bangladesh Taka ini hampir tidak akan ditemukan di penjuru Jakarta, tempat dimana saya tinggal dan bekerja.

Ketika keluar arrival gate saya cukup kaget karena banyak sekali orang-orang menunggu untuk menjemput. Kebanyakan mereka membawa selembar bahkan beberapa lembar ditumpuk bertuliskan Mr and Mrs Joness… Hehe.

Wajah-wajah khas Asia Selatan begitu kentara dan lebih meyakinkan saya bahwa memang saya sudah sampai tujuan, Dhaka, Bangladesh. Kota yang bahkan belum sempat terpikirkan oleh saya untuk dikunjungi, Negara dunia ketiga yang kata banyak teman-teman bahwa saya akan mengalami culture shock, ohh ya? Seperti apakah gerangan??

Sambil berjalan dan mengamati para penjemput tamu itu saya mencari nama saya dalam hati. “Ferdi, Ferdi, Ferdi….” tidak ada guman saya. Wah payah. Mana belum beli SIM card dan paket internet.
Selama satu dua menit saya tunggu, 15 menit saya mencoba menyabarkan hati saya bahkan semua akan baik-baik saja. 30 menit berlalu dan tidak ada seorangpun memegang kertas bertuliskan nama saya. para tamu sudah bertemu para penjemput tamu dan mereka satu persatu pergi.

Kasihan, sudah jauh-jauh mengemban tugas Negara tetapi tidak dianggap, “apa saya pulang ke Indonesia lagi apa ya?” piker saya sedikit kecewa.

Suasana bandara menjadi lebih sepi lagi. Akhirnya saya putuskan menelpon hotel menggunakan mobile phone saya dan SIM card Indonesia, tidak terbayang berapa biaya roaming itu tetapi tidak ada pilihan lain kan? Telepon umum? Hmm.. boro-boro..

“Tuut tuutt…” suara jawaban terdengar dari sebrang telepon. “Good evening Lakeshore hotel, what can we help you?” Saya jelaskan kejadian saat itu dan meminta klarifikasi apakah bisa menjemput saya di bandara.

Informasi yang saya dapatkan sebelumnya dari rekan saya yang memang tinggal dan kerja di Dhaka, bahwa saya akan dijemput di bandara.

30 menit saya menunggu dan akhirnya ada seseorang yang ber-jas dan berdasi dating menghampiri saya. “Mr. Ferdi?” “Yes I am” jawab saya.

Tanpa menunggu lama saya mengikuti Bapak-Bapak itu yang memang dia sudah beranjak berjalan menuju suatu tempat. Orang itu memiliki langkah kaki panjang, terang saja saya lumayan tergopoh-gopoh mengikuti sambil membawa backpack 1 piece saja.

Dari awal saya memang memutuskan untuk stay 2 hari di Dhaka untuk menelusuri kota ini. Jadi saya hanya membawa pakaian secukupnya dan memutuskan hanya akan membawa 1 buah ransel saja ukuran sedang.

Saya sedikit penasaran apakah memang mobilnya limosin itu, ketika driver itu mendekati moil mewah hitan dan panjang itu. Dan ternyata benar, wah sambutan yang mewah nih.

Saya masuk ke mobil ketika driver itu membukakan pintu belakang kiri mobil buat saya, saya merasa berbeda saat itu, seperti naik kelas, seperti berdarah ningrat dan anak pejabat.. haha

Diantara banggku belakang mobil ada welcome package berupa minuman seperti champagne, snack, permen dan ucapan selamat dating. Dalam hati saya tertawa terbahak-bahak walaupun enggan menyentuh sama sekali jamuan selamat datang tersebut.

Mobil menelusuri gelapnya malam dan kurang lebih 30 menit sudah sampai hotel seperti yang dipesan sebelumnya. Begitu urusan check in selesai, langsung masuk kamar dan zzz…

Gulshan Lake dan jembatannya dilihat dari jendela hotel. Gulshan adalah business distrik di Dhaka.
Kamar selama 4 malam di Dhaka
—–

Kembali tentang Starbucks di awal, akhirnya setelah mobil yang akan mengantarkan saya ke Pink City datang, saya pun langsung naik ke kursi depan. Mobil meluncur menyelusuri jalanan kota Dhaka yang agak berdebu.

Dalam perjalanan saya mengajak ngobrol dengan Pak Supir mengenai dirinya sudah cukup lama di kantor ini dan ternyata dia berasal dari luar kota. Tak menunggu lama akhirnya mobil berhenti di sebuah halaman sebuah gedung.

“Have arrived, Sir” ucap Pak supir. “Is it?” saahut sambil setengah tidak percaya apa memang ini gedung yang disebut  a big mall tersebut sambil menoleh ke jendela kiri melihat sekitar gedung tersebut.

“Ok, then I will have a dinner in this building and I will meet you an hour later here, is it okay?” kata saya dan dia pun mengiyakan “Yes Sir”.

Begitu keluar mobil, saya menuju pintu masuk. Dari luar sebenarnya gedung ini tidak seperti mall yang biasa kita lihat di Jakarta. Gedung ini cukup tinggi sekitar 5-6 lantai menjulang dan tidak terlalu lebar. Di depannya terbaca tulisan “Gulshan Pink City Shopping Complex”. Ah tidak salah berarti apa yang dimaksud teman saya tadi.

This was the big mall that my colleague meant.

Begitu masuk lantai dasar saya tidak melihat tanda-tanda apa yang saya inginkan, pertokoan di kanan-kiri malah lebih terlihat seperti kalau di Jakarta itu seperti ITC. Menjual aneka macam merchandise dan baju-baju khas Negara tersebut yaitu Sari.

Saya masih mencoba untuk positif mungkin saja lantai-lantai di atasnya terdapat Starbucks ato produk POP lainnya yang bercita rasa lebih netral.

Salah satu lantai di mall ini

Satu per satu saya naik lantai, saya melihat lorong kanan dan kiri tetapi semuanya tetap setia, tetap sama saja menjual Sari dan Sari… Saya kecewa tetapi tetap ingin melihat seperti apa terlihat sampai lantai paling atas.

Kalau mau beli Sari memang disini tempatnya… 🙂

Sampai lantai paling atas saya hanya melihat satu stand yang sepertinya menjual makanan, setelah saya hampiri ternyata menjual jagung rebus dan kentang goring/Fries. Apa boleh buat deh setelah celingak – celinguk kanan-kiri tak ada tempat makanan lainnya akhirnya memutuskan untuk keluar saja dari gedung ini dan cari tempat makan di sekitarnya.

Satu-satunya stand di mall ini

Begitu keluar dari gedung ini mata saya langsung mencari restoran apa yang kiranya bisa untuk makan malam. Pilihannya pun tertuju pada salah satu tempat di sebrang jalan. Selain berbahasa Inggris yang mudah dimengerti, restoran ini juga yang terlalu mencolok diantara yang lain.
Tanpa pikir panjang saya pun masuk ke restoran itu.

Buku Menu
Nasi goring dan milkshake, perpaduan yang kurang nyambung.

Well, akhirnya berakhir sudah malam saya kala itu di restoran India dengan makanan bumbu cita rasa Kari juga. Kari yang sekali dua kali makan masih cukup menyenangkan, tetapi kalau sudah beberapa hari membuat enggan untuk memakannya. Tetapi tidak punya pilihan lain.

Terbersit untuk memesan Chinese food seperti yang tertera di menu, tapi ingat ini ada di dalam restoran India. Pernah ada pengalaman ketika saya di Bangalore karena saking pinginnya makanan non-kari akhirnya memesan menu Singapore Noodles. Apa yang terjadi? ternyata mie Singapura itu berasa kari juga.. Hehe..

Leave a Reply